Kangen

Aku  memikirkan seberapa besar kontribusi tubuh pada bangunan kedirian (self). Saat ini, manusia dengan mudahnya terhubung satu sama lain; dapat berbicara dan mendengar via telepon, melihat melalui video call, dan secara umum melalui berbagai sarana itu mereka dapat berbagi emosi dan pikiran dengan sesamanya. Namun tetap saja, pada sejumlah relasi, semua itu belum cukup hingga benar-benar dapat berbagi ruang yang memungkinkan untuk menatap langsung dan berbagi sentuhan. Jika kita menganggap diri manusia merupakan hal abstrak yang mengejawantah pada sikapnya, dalam luapan emosi atau pemikiran yang semuanya terwadahi oleh bahasa, mengapa keterpisahan ruang meski disertai interaksi tidak langsung yang begitu banyak  seperti itu masih pula menerbitkan rindu?

Bisa dibilang keterpisahan macam itu semu,‘kan? Yah, semua ini bisa saja salah karena tesis awal yang salah bahwasanya “ diri manusia merupakan hal abstrak yang mengejawantah pada sikapnya, dalam luapan emosi atau pemikiran yang semuanya terwadahi oleh bahasa“. Mungkin memang itu komponen utama dalam kedirian sebagai aktualisasi dari akal yang menjadi penentu kemanusiaan. Tapi, sejatinya, di dalam dunia fana ini kita masih beratribut tubuh yang fana serta kehendak-kehendak dan kecenderungan yang juga terikat dengan kondisi kita tersebut. Jadi tesis itu belum lengkap bila dikaitkan dengan konteks keduniawian.

Aku bisa menelponmu, mengirim pesan, menerima berita bahwa kau baru saja makan, atau kehujanan, atau baru pulang dan kelelahan. Tapi semua itu tak cukup untuk sekedar kuketahui. Entah mengapa aku merasa perlu melihat langsung wajah puas dan penuh syukurmu selepas menandaskan makanan lezat, memastikan kau tidak masuk angin karena kedinginan, juga tak bisa kutahan keinginan untuk memijat pundakmu, setidaknya, untuk menawarkan sedikit lelahmu. Gambar dan suaramu saja tak cukup. Takkan pernah cukup.

Baiklah kalau begitu, secara umum saja kusimpulkan bahwa rindu semacam itu tidak semu, ia nyata. Juga wajar saja bila aku merindukanmu. Tidak berlebihan dan tidak mengada-ada.

Advertisements

Cangkir-cangkir Rindu

SMS manis dari ibuku: “(Ibu) lagi goreng ikan asin. Bapak baru pulang. (Seperti) biasa, kopi sudah siap. Sudah minum kopi?…”.  Sudah ngopi hari ini? Aku belum ngopi yang diseduh ibu, batinku. Aku memandangi cangkir kopiku dan teringat saat-saat ibu menyiapkan kopi menyambut kepulangan Bapak yang seringkali kusambut dengan “dua, Bu!”. Ibu lantas bertanya, “pakai gula?”, yang kujawab dengan”sedikit” kadang “tidak”.

Continue reading “Cangkir-cangkir Rindu”