Merayakan sebuah perpisahan.

Seperti empat tahun sebelumnya, waktu seolah berputar. Kembali  duduk, sendiri,  dan merenungi perjalanan panjang yang telah lewat. Memastikan bahwa semuanya bukanlah suatu kesalahan. Bahwa setiap pilihan merupakan hal terbaik yang telah diambil. Kemudian dapatlah aku bersyukur.

Continue reading “Merayakan sebuah perpisahan.”

Advertisements

Urusan Penting

Ada berita sore itu. Katanya, Pak RT mau kumpulkan warga. Untuk apa aku tak tahu.

 

Aku diminta pukul kentongan agar semua orang dengar.

Kutanya, “Kenapa tak buat asap di atas bukit agar orang tuli tetap tahu beritanya?”

“Nanti orang buta tak bisa melihatnya?” Kujawab, “Kan bisa mencium baunya. Adakah yang cacat penciumannya di kampung kita?”

 

“Ah, tadi kau bilang, asapnya dibuat di atas bukit. Sejauh itu, baunya takkan sampai.”

 

Betul juga. Aku putar otak.

Seseorang bicara, “Biar dibuat asap di depan rumah mereka, bagaimana?”

“Kalau begitu, mengapa tidak ketuk pintu satu-satu?”

“Ah, tidak bisa begitu. Nanti dikira urusan tetangga saja. Ini mesti resmi! Urusan masyarakat. Urusan pemerintahan. Tidak boleh sekedar seperti ketuk pintu tetangga.”

 

“Oh, begitu? Jadi sudah diputuskan ini semua? Jadi nanti saya jalankan rencana itu pak? Omong-omong bapak mau mengumumkan apa?”

 

“Ya, itu tadi. Warga harus berkumpul. Ada urusan penting.”

 

“Urusan pentingnya, apa Pak? Nanti ada yang bertanya.”

“Ya urusan penting pemerintahan. Pengumuman penting. Ya itu tadi. Setelah warga kumpul nanti saya umumkan. Kamu jangan kasih tahu mereka dulu. Nanti saya akan bilang bahwa mulai saat ini, agar lebih efektif dan efisien, untuk mengumpulkan warga, kita pakai cara buat asap di depan rumah itu tadi.” Sekian.

Madre dan Filosofi Kopi

Dalam sepekan ini aku membaca dua buah karya Dee. “Madre” dan “Filosofi Kopi”. Aku baru membaca Filosofi Kopi?! Ha! Yah, entahlah sudah lama ada juga sebenarnya, namun kautahu karena sastra kubaca untuk kubaca, seperti harus menunggu sesuatu yang menggerakkanku untuk meraih dan membacanya. Kadang hal itu seperti di luar kontrol (tentu bukan makna yang sebenarnya).

Continue reading “Madre dan Filosofi Kopi”

Suara Gitanjali


Dalam kerinduan pada entah, sembari menatap  hampa yang memekat, rasanya seperti mendapatkan lagu yang tepat dengan suasana hati, kala bersitatapku dengan sejumlah bait dalam Gitanjali. Ya, Gitanjali karya Rabindranath Tagore, yang berbunyi:

 

Hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya. Karena itulah mengapa begitu terlambat  dan mengapa aku dipersalahkan.

Mereka datang bersama hukum-hukum dan undang-undangan untuk mengikatku erat-erat, tetapi aku selalu menghindar. Karena hanya cinta yang sedang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.

Orang banyak menyalahkan aku dan menyebutku tak peduli, dan aku tak ragu mereka benar dalam hal itu.

Hari perayaan telah usai dan kerja yang menyibukkan telah berakhir. Mereka yang menyebutku gagal telah kembali pulang dalam kemarahan. Tapi hanya cinta yang kutunggu agar akhirnya dapat kuserahkan diriku ke dalam tangannya.*

 

Aduh, diriku menanti cinta pula. Semangat dalam hidup  yang membuat arti tiap kali membuka mata. Jatuh cinta setiap pagi sejak kuserahkan diri di tangannya. Kerja dan hidup macam apa yang bisa menjelmakan makna sedemikian penuh. Ini soal menjadi apa, bukan bersama siapa. Dunia apa yang bisa kuterjemahkan sebagai rumah cintaku. Dari sekian banyak penarik hati, tangan manakah yang paling tepat kuraih dan kuserahkan diriku. Kutetapi sulit mudahnya. Kuhadapi badai damainya. Yang menjadi alasan khusus aku dan segala dalam aku diwujudkan Yang Kuasa. Di mana relungku di jagat ini.

 

Aku diburu waktu. Napasku tersengal berbalapan derasnya aliran butiran pasir. Namun pada mata mereka, aku hanya termangu bodoh karena terus menunggu, sementara mereka pontang-panting berlari pagi petang. Tiada yang mendengar, dalam diriku ombak berderu, berpacu seru. Dalam menunggu tiada damai. Dalam menunggu risau menggaduh, gundah meriuh. Menghentak-hentak jiwa. Menendang-nendang kuat seolah hendak lompat dari tubuh yang terpaku, termangu.

 

Aku harus mulai melayarkan kapalku. Saat-saat yang membosankan berlalu di pantai-aduh diriku!

Musim semi setelah selesai memekarkan bunga-bunga ia pergi. Dan kini dengan sambil membawa bunga-bunga layu dan pudar aku menunggu dan termangu.

Ombak-ombak menjadi gaduh, dan di pantai yang berpohon-pohon rindang, daun-daun kuning menggelepar dan gugur ke atas bumi.

Kekosongan apa yang kini kau pandang! Tidakkah engkau rasakan getaran yang sedang melintas udara bersama nada-nada lagu nun jauh di sana mengalun dari pantai yang lain?**

 

* kidung ke-17

**kidung ke-21