Seni, Apa Itu?

Sedemikian akrabnya kita dengan seni, namun tak menjamin kefasihan dalam menjelaskan apa itu seni. Seiring panjangnya peradaban manusia, sepertinya seni tidak pernah absen. Mulai dari lukisan gua, syair dan mantra yang seolah mampu menyihir pendengarnya, hingga artefak arsitektur yang masih kokoh berdiri menembus milenia adalah sebagian bukti begitu eratnya peradaban manusia dengan seni.

Meski seni telah bertransformasi sedemikian rupa, mulai dari sesuatu yang nampaknya menuntut penciptanya mengerahkan kekuatan karsa dan keterampilan yang luar biasa hingga sesuatu yang nampak sepele seperti tumpukan kardus Brillo-nya Andy Warhol, tentu ada kata kunci yang menghimpun semuanya dalam kategori seni. Persepsi keindahanlah yang mengumpulkan semuanya walaupun tidak semua manusia akan sepakat terkait parameter indah tidaknya suatu karya. Apakah indah itu memiliki suatu daftar parameter yang bila tercentang semua pada suatu karya maka otomatis ia dinyatakan indah? Akalkah yang menimbangnya? Rasakah yang mampu menginderanya? Siapa pula hakim yang kompeten menjatuhkan vonis itu?

Buku kecil ini memiliki misi untuk menghimpun persepsi tentang seni dari pemikir besar di zaman Yunani, Platon, hingga Danto. Kita diajak bersafari dari persepsi seni yang begitu erat dengan standar kebenaran, bahwa ada seni yang benar dan ada seni yang salah. Kemudian tiba juga di suatu masa ketika kegiatan seni menjadi kesempatan untuk memperlihatkan situasi surgawi di dunia dan bertujuan mendekatkan manusia pada unsur keilahian seperti banyak yang ditinggalkan oleh seniman Abad Pertengahan di Eropa. Seni pun beralih fokus lagi dari sakral menjadi profan dalam perkembangan selanjutnya ketika manusia menjadi pusat dan tujuan dalam berkesenian.

Agaknya, pembaca kemudian diminta untuk mengambil simpulan sendiri setelah membenamkan diri dalam berbagai pandangan para pemikir penting tersebut tentang seni. Jika ia merupakan suatu yang alamiah, yang fitrah dalam diri manusia hingga tak sekejap pun dalam perjalanan peradaban manusia meninggalkan seni, maka penelusuran ini akan membangunkan sesuatu yang selalu ada. Bukan menerima sesuatu yang baru dari luar. Dalam perjalanan itu, buku ini cukup asik dibaca, namun sebagaimana terjemahan dari teks Jerman pada umumnya, iapun mengandung kompleksitasnya sendiri sehingga pada beberapa bagian, pengulangan bacaan diperlukan untuk menangkap maknanya dengan tepat.

  • Judul: Seni-Apa Itu?; Posisi Estetika dari Platon sampai Danto
  • Penulis: Michael Hauskeller
  • Bahasa Asli: Jerman
  • Judul Asli: Was is Kunst? Positionen der Asthetik von Platon bis Danto
  • Terjemahan: Bahasa Indonesia
  • Penerjemah: Satya Graha dan Monika J Wizemann
  • Penerbit: PT Kanisius
  • Tahun/Kota Terbit: 2015/Sleman
  • ISBN: 978-979-21-4116-0
Advertisements

Beg, Steal, and Borrow

Dalam salah satu episode The Big Bang Theory, saat Sheldon Cooper dikunjungi Wil Wheaton bersama Adam, putra Leonard Nimoy untuk pengambilan video, ia berkata kurang lebih seperti ini, “Sorry but, you’re only half of Spock. I mean half of you’re DNA is your mom’s”. Dengan logika yang sama, bahkan Leonard Nimoy (pemeran Spock idola Sheldon) yang orisinal pun, tidak begitu orisinal jika mengingat ia juga perpaduan DNA orangtuanya. Adegan tersebut menggambarkan ide yang dibahas dalam buku ini: mempertanyakan lagi konsep orisinalitas dalam hidup kita. Setelah Adam dan Hawa tak ada lagi manusia yang orisinal di bumi ini. Seluruhnya adalah salinan dan pembauran dari berbagai data DNA yang diwariskan dari orangtua, dan bersambung terus pada leluhurnya.

Bahkan dalam perilaku, kita belajar dengan meniru. Hal tersebut sangat fundamental. Sebelum kita mampu berpikir dengan sempurna, kita belajar berjalan, menggunakan peralatan makan, bernyanyi, dengan meniru. Hal itulah tesis utama dari penulis buku ini. Dalam dunia seni, semuanya adalah reka ulang, pengembangan, tiruan, reproduksi dari segala yang pernah ada. Para pelukis pada mulanya membuat gambar dengan meniru alam. Kemudian menginspirasi seniman setelahnya, demikian terus yang terjadi dalam sepanjang sejarah seni. Rekontekstualisasi, pengadaptasian, pembuatan versi baru dari suatu pesan melalui seni merupakan sesuatu yang berlangsung dari dulu dan terus hidup hingga kini dalam dunia seni.

Akan tetapi, mencuri itu dilarang, kan? Mengambil suatu karya untuk dijadikan sebagai karya sendiri merupakan tindakan ilegal. Karena itu ada suatu hukum semacam fair use di Amerika Serikat atau fair dealing di Inggris yang mengatur batasan penggunaan suatu karya terdaftar dalam karya transformatif semacam komentar, kritik, atau parodi.

If, on the other hand, the secondary use adds value to the original–if the quoted matter is used as raw material, transformed in the creation of new information, new aesthetics, new insights, and understandings–this is the very type of activity that the fair use doctrine intends to protect for the enrichment of society.

Judge Pierre N. Leval

Keterangan Buku

Perhatikan “stempel”-nya: “This is not a penguin book”

  • Judul: Beg, Steal, and Borrow, Artist Against Originality
  • Penulis: Robert Shore
  • Penerbit: Laurence King Publishing
  • Tahun/Kota Terbit: 2017/London
  • ISBN: 9781780679464