Ospek Yogyakarta (2)

Belakangan, kunjungan ke blog ini meningkat terutama postingan “Ospek Ngayogyakarta“. Mungkin karena memang sedang musim penerimaan mahasiswa baru, jadi banyak yang butuh info seputar itu. 

Postingan yang kusebut di atas kubuat hampir lima tahun lalu saat pertama kali mengeksplorasi kota ini. Bertahun-tahun lewat, pemahaman atas kota inipun berkembang. Tapi takkan kutuliskan di sini. Tulisan ini bertujuan untuk melengkapi keterangan pada postingan blog-ku yang terdahulu.

Sarana Transportasi

Baik, mau kemana di Jogja? Salah satu keluhan warga baru Jogja, terutama yang berasal dari kota angkot, di sini susah angkot. Ada bus, tapi terbatas dan waktu operasinya cenderung singkat. Langsung kita bahas aja deh opsi-opsinya:

  • Transjogja

Ini memang semacam transjakarta dalam versi lebih sederhana. Yaialah jalanan di Jogja sempit,  ga perlu bangun koridor-koridor semacam TJ. Jadi, mirip rute bus biasa hanya tempat naik turunnya saja tertentu, dan selama belum keluar dari halte tidak dipungut ongkos lagi. Mbak-mbak dan Mas-mas yang berjaga di halte biasanya sigap membantu menginformasikan jalur bus berapa yang perlu kamu tumpangi untuk sampai tujuan dan perlu transit dimana saja. Jadi jangan ragu bertanya.

  • Bus kota jalur-jaluran

Ada bus kota (yang sayangnya tidak semua rute aktif) beredar melintasi kota, tapi menarik meluangkan waktu sekali-kali untuk mencari tahu rutenya karena kadang sudah ada sejumlah perubahan dari rute resmi. 

  • Becak

Ada becak reguler yang bergerak digowes tukang becak. Ada juga yang bermotor, bentor (becak motor). Kalau berkeliling di sekitar Jalan Malioboro, akan ada banyak tukang becak yang menawarkan mengantar ke sentra bakpia. “5000 mbak, ayok tak antar, bakpia-bakpia…” Jangan jadikan itu sebagai standar tarif, karena yang mereka tawarkan sudah jadi lebih murah. Soalnya para pengemudi becak mendapat  share dari pemilik toko bakpia, bergantung dari jumlah konsumen yang mereka antar. Tapi kalau sekali-kali beli bakpia diantar becak dari Malioboro, jangan lupa mampir di Pasar Pathuk, itu termasuk salah satu lokasi yang jajanannya lumayan enak. 

  • Ojek dan Taksi

Wajar kalau di Jogja banyak ojeg karena transportasi publiknya memang minim. Tapi sebaiknya di awal betul-betul dipastikan bahwa pengemudinya paham lokasi yang dimaksud. Peta bisa dijadikan alat bantu. Agar tidak terjadi masalah saja selepas mengantar, minta ongkos tambahan karena lokasi lbh jauh dari perkiraan, dll. Hal ini berlaku juga saat naik taksi. Karena kadang mengherankan juga, ketika rasanya jogja tidak terlalu luas tapi kok banyak pengemudi yang sering tidak hapal jalan terutama jika sudah keluar wilayah kota jogja (misal, masuk kab.bantul).

  • Delman

Delman di Jogja kadang berfungsi seperti angkot namun dengan jalur bebas. Maksudnya, untuk naik delman tidak mesti berniat menyewanya seperti taksi atau becak. Bahkan jika terlihat ada penumpang,jika ybs tidak keberatan kita bisa ikut menumpang saat tujuan kita dilewati rute saisnya. Bertanya saja ia hendak ke arah mana dan apa kita boleh turut. Ongkosnya akan ditentukan oleh sais, jadi lebih baik tawar menawar diselesaikan di awal.

  • O-jack dan Gojek

Sebelum gojek masuk jogja, sudah ada pengusaha lokal yang menawarkan layanan ojeg argo. Belakangan mereka juga dipesan via aplikasi di hp. Selama aktivitas masih di dalam kota jogja, aman deh. Tapi begitu keluar, biasanya agak sulit mencari layanan ojeg aplikasi ini. Jarang ada yang mau nyamperin. Bukan cuma ojeg sih, kadang taksi juga begitu, heu.

Istilah bangjo

Bangjo itu akronim dari “abang-ijo”(artinya merah-ijo), maksudnya adalah lampu merah/ traffic light. Di jogja, bangjo sering  sekali dijadikan landmark, jadi baik juga mengingat-ingat atau mencatat ada bangunan penting apa di dekat suatu bangjo. Misalnya, ke arah barat dari bangjo gondomanan ada gedung BI dan kantor pos, ke arah timurnya jembatan sayidan, sementara ke utaranya ada jalan mataram.
Mengenal arah mata angin

Yup, di jogja rata-rata orang menggunakan arah mata angin untuk menunjukkan arah. Bukan kiri-kanan. Bahkan, jangan heran bila suatu ketika kamu mendengar, ” tolong nyalakan lampu, stop kontaknya di barat lemari”, atau ” itu lho bukuku yang di selatan tempat pensilmu” 👽

Jangan merasa teralienasi dulu karena lama-lama akan terbiasa juga. Di masa awal jalan-jalan berbekal kompas tak ada ruginya. Aku masih melakukannya bahkan sampai sekarang. Demi alasan praktis saja, agar aku tak selalu harus memeriksa bayangan matahari :p

Beli buku di mana?

Untuk sentra penjualan buku ada shopping  centre di belakang Taman Pintar. Enperan loakan buku lainnya ada di perempatan Gondomanan, serta daerah Cik Di Tiro, dekat gedung kampus UII.  Toko Gramedia ada di Jalan Soedirman, Mall Malioboro, dan Ambarrukmo Plaza. Togamas ada di dekat Perpustakaan Kota dan di Jalan Gejayan. Periplus di Mall Malioboro. Ada satu toko buku impor juga di Lippo Mall, Japan Adisucipto. Namanya Books and Beyond.

Selain itu masih tersebar toko buku SAB (Social Agency Baru) di cukup banyak lokasi. Misalnya di Jalan Kaliurang, Godean, Jalan Glagahsari, dll, banyak sekali cabangnya. Khusus kitab-kitab berbahasa arab, ada dua toko buku, yang satu terletak di dekat UGM, satu lagi di dekat UIN Suka.

Selain itu, Jogja juga rajin berpameran buku. Acara tahunannya antara lain Pameran Buku Ikapi, Grebeg Buku, Islamic Book Fair, atau “anu”/” blablabla” bookk fair adaaa saja, sampai pada satu titik aku merasa bosan dan berhenti menyambangi pameran. Cukup mengunduh atau membeli daring buku yang kubutuhkan, hehe.

(Akan diedit dan ditambahkan informasi terus sampai kurasa cukup. Jadi, stay  tune ya… ;))

    Advertisements

    OSPEK NGAYOGYAKARTA

    Hari ini (7 Desember 2011) aku memulai OSPEK (Orientasi dan Pengenalan Kota) di tempat tinggalku yang baru. Terakhir kali aku melakukan ini sekitar tujuh tahun silam di kota Bandung. Waktu itu, selama dua hari aku menumpang angkutan dalam kota, mengenali lingkungan, menandai  lokasi tempat-tempat penting yang sekiranya dibutuhkan selama aku tinggal di kota itu.

    Continue reading “OSPEK NGAYOGYAKARTA”