Days With Frog and Toad

Frog dan Toad berkawan baik. Mereka menerbangkan layangan bersama, berbagi cerita ngeri hingga merinding, merayakan ulang tahun. Tapi suatu hari Frog berkata ia sedang ingin sendiri saja. Mengapa?

Continue reading “Days With Frog and Toad”

Advertisements

Cincin

Aku berjumpa dengannya semalam. Dia masih tetap sama, menyebalkan tapi dirindu. Ah, orang itu. Kukenal sejak bocah dan seolah tak ada yang berubah di antara kami meski bertahun-tahun tak jumpa. Tapi anehnya, meski masih saling mengenali, untuk saat ini seperti ada yang tak biasa. Kami bingung hendak bicara apa. Duh…! Dua orang di sana menertawai kami.
“Kalian ngapain ?”, kata mereka melihat kecanggungan di antara kami.

Tak kuduga, temanku langsung menyahut, ” Dia masih saja mengenakan cincin dari kekasihnya. Bagaimana caraku meminta dia menukarnya dengan ini?”

Itu terjadi malam tadi, lalu aku tak ingat apa yang terjadi hingga membuatku ciut dan terkurung dalam cincin raksasa ini.

lovear

love, in it’s sad part, to me it always appears;
never once it come without tears

love pops out of the window till when I reach the windowsill, it dissapears

love, what an abundant entity in me; spills anywhere around; heavier than I can bear

love, the very reason I spend nights crying under my blanket, with no comfort comes near

love, how can anyone tell me it’s the sweetest thing ever flourish; they swear

love, nothing but a misery with an additional ‘t’ within, the thing I fear.

Musim Air Mata

Luka bersemi di balik guguran tawa. Awalnya ia hanya sebenih duka. Sayang ia hadir saat musim air mata.

Musim air mata yang baru… Seharusnya ia hanya lalu, menyapu lesu yang tak terhanyut waktu. Tapi, tersapa sebenih duka itu. Mereka tak seharusnya bertemu.

Luka ini… Kau tahu, berbuah pedih. Pada musim air mata, benih duka tumbuh menjadi luka, berbuah pedih.

Sakitkah? Pedih, semakin tajam, memerih, dalam buaian musim air mata.

Aku ingin tak pernah jumpa dengan…,
tak pernah menghabiskan waktu dalam…,
tak pernah kenal akan…,
Musim Air Mata.

Toire no Kamisama

“Toire no Kamisama” bila diterjemahkan kurang lebih menjadi “dewa toilet”. Tapi film ini bukan sekedar menuturkan mitos tersebut. Film ini justru memberikanku ruang (berulang-ulang) untuk berefleksi terhadap kehidupan. Seringkali kutonton kembali film ini ketika aku butuh pengarah dalam mengontrol emosi yang sedang tak menentu. Pada momen-momen tersebut rasanya aku dipandu oleh rangkaian adegan dalam film ini untuk menempatkan kembali tawa dan tangisku secara proporsional.

Naskah asli film ini ditulis oleh penyanyi Jepang, Uemura Kana, berdasarkan kisah hidupnya. Terutama pengalamannya selama tinggal bersama neneknya. Kana pindah dari rumahnya untuk menemani sang nenek selepas kematian kakeknya. Kakaknyalah yang mencetuskan ide kepindahan tersebut yang tak disangka Kana seketika disambut baik oleh ibu dan saudara-saudaranya. Dalam perasaan sedikit bingung, Kana akhirnya mengikuti usul itu.

Kehidupan yang dihadapi Kana cukup unik. Ayahnya pergi dari rumah sesaat setelah dia lahir, praktis Kana tak mengenal sosoknya. Sementara itu, ibu Kana dengan kepribadiannya yang cukup unik sangat membenci ayahnya dan hanya menceritakan keburukan-keburukan sang ayah pada Kana. Namun selalu ada neneknya yang menghibur dan melindungi Kana kecil. Sejak Kana masih tinggal bersama ibunya (sebetulnya rumah mereka bertetangga, jadi meskipun Kana tinggal di rumah nenek, ia tetap melihat ibu dan saudara-saudaranya setiap hari), sepintas neneknya memang memanjakan Kana, tapi dengan caranya sendiri ia mendidik Kana hingga membentuk kesan yang kuat dalam diri Kana. Neneknyalah yang pertama kali mengisahkan dia tentang dewi toilet ketika Kana merasa lelah mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Kana kemudian bersemangat dan dapat tersenyum kembali.

Konflik demi konflik dihadapi Kana kecil hingga tiba masa remajanya. Dia mulai serius mengejar cita-citanya sebagai seniman selulus dari sekolah musik. Dia mencoba bermain musik di pinggir jalan, mengikuti audisi, hingga berangkat ke Tokyo untuk mencari peluang yang lebih besar bagi pengembangan karirnya dan memenuhi tantangan neneknya untuk dapat menciptakan lagu “yang benar-benar miliknya”.

Konflik yang berkesan kuat padaku selain dari perjuangan Kana meraih mimpinya adalah relasi dengan ibunya. Mereka saling mencintai, tapi interaksi mereka tidak mudah. Kadang kurasa juga demikianlah alaminya, bukan semata perkara kejujuran atau keterbukaan, tetapi pengalaman yang membentuk diri kita kadang membuat kita sulit mengekspresikan emosi kita dengan tepat. Kita mencintai tapi sering mengekspresikannya dengan tindakan menyakiti. Kita merindu tapi yang hadir adalah kemarahan. Seringkali kita gagal menjadi tuan atas hati kita sendiri. Relasi pun naik turun. Kadang hangat, pada waktu lain menyayat. Seringkali kita merasa diri kita adalah kesalahan. Perasaan terbuang, tidak diinginkan, dan kesiaan kadang meledak dalam jiwa ketika yang kita cintai mengekspresikan sikap yang kurang dapat kita terima. Begitu pula yang kusaksikan dalam relasi ibu-anak ini. Kana, sejak kecil merasa dibenci ibunya karena sang ibu yang kurang perhatian, dan merasa dibuang saat sang ibu mendukung penuh kepindahannya ke rumah nenek. Tak disangka pada suatu pertengkaran bertahun-tahun berikutnya, justru terungkap bahwa sang ibulah yang merasa ditinggal kabur oleh Kana.

Terlalu ringkas halaman ini untuk menuliskan kembali kesan-kesan yang kutangkap. Aku hanya dapat merekomendasikan untuk menonton film ini. Banyak pelajaran terkait emosi dan relasi antarmanusia yang kupelajari darinya.

Kita tak pernah merencanakan akan menemui siapa saja sepanjang hidup kita. Orang-orang yang hadir dalam hidup kita adalah “hadiah Tuhan”, namun membangun relasi unik dengan setiap orang tadi adalah seni unik yang kita pelajari seiring kedewasaan kita tumbuh.

Ada sebuah kalimat yang kubaca malam ini secara tak sengaja: “Cinta bukanlah perkara memberi dan menerima, tapi memberi dan terus memberi. Ketika kau bertemu seseorang yang memberi sebanyak yang kauberi, itulah saat kau menemukan orang yang tepat untuk dicintai.” Aku merenungkan kalimat ini cukup lama sembari menonton ulang film ini. Ada kebenaran yang kurasa di dalamnya tapi tetap terasa sulit ditelan. Berat mencintai tanpa pamrih, berat mencintai tanpa setidaknya mengharapkan perhatian balik dari yang kita cintai. Tapi, cinta yang selalu menuntut juga melelahkan, bukan? Aku jadi teringat kedua orangtuaku. Mereka mungkin satu-satunya model teladan yang paling dekat atas cinta yang demikian. Memberi dan memberi saja…