Featured

wilkommen…

Laman ini merupakan catatan yang merekam muatan pikiranku dalam topik yang beragam tentang kehidupan, dalam perjalanan panjangku berupaya memahami realitas. Dipikir-pikir berawal dari pilihanku mengambil studi fisika sebagai studi utamaku yang kemudian bercabang ke lain-lain hal. Banyak curhat, sedikit review atas buku atau film, komentar atas fenomena atau pikiran orang lain, lebih sedikit lagi tulisan riset-riset kecil yang kulakukan, serta beberapa tautan dari laman lain yang butuh kuarsipkan.

Sebagaimana diriku, catatan di sini juga tumbuh. Revisi adalah hal yang sangat umum dan wajar. Dalam setahun, tulisan yang sama akan begitu sering diedit, bergantung pada minatku dalam topik bersangkutan, perkembangan pemahamanku, ketelitianku pada detail penulisan, serta waktu yang kumiliki. Tapi setelah setahun, jika ada perubahan posisiku terhadap apa yang pernah kutulis, insya’a-llah akan kubuat tulisan baru sebagai tanggapan atas tulisanku yang lama.

Tabik…

Jauhnya Jarak Satu Klik

Media sosial benar-benar telah mengubah profil relasi antarmanusia saat ini. Bisa dibilang sudah hampir tak ada lagi hubungan langsung antarindividu. Setisp orang menjadi “humas” dirinya sendiri. Berkomunikasi saat ini adalah menyiarkan berita, bisa saja disebar pada lingkaran tertentu atau publik secara umum. Teknologi sudah meringankan beban kita untuk mengingat dengan siapa saja kita perlu berbagi suka atau duka. Semua diatur oleh “manajer humas” yang sudah kita arahkan saat kita mengatur mode pertemanan, menyetujui atau menolak permintaan pertemanan dari seseorang. Informasi seolah bisa kita atur peredarannya dalam lingkup yang kita inginkan, ya, selama tidak memantik ketertarikan orang lain dalam rantai yang panjang hingga disebar berulang, dan muncullah fenomena yang kita kenal sebagai “viral”.

Di sisi lain, orang yang menolak untuk ikut serta dalam budaya baru ini, dianggap menghilang. Seperti selebritis yang lama tak muncul di televisi. Dulu kita katakan yang seperti itu menghilang, tak ada kabarnya. Di luar kenalan pribadi sang seleb, karena tak kenal langsung, kecuali fan fanatiknya mungkin tak ada yang akan mencari tahu kabar sang seleb. Cukup puas dengan menyematkan status “menghilang”, mungkin dengan tambahan embel-embel “dari layar kaca”. Kini, yang “menghilang” bisa siapa saja. Bahkan kawan—yang pernah—dekat ketika kemudian tinggal berjauhan, tenggelam dalam urusan masing-masing, bisa dianggap hilang meski tetap tinggal di alamat yang sama dan dapat dihubungi di nomor telepon yang diketahui aktif. Hanya karena tak ada “update status” atau broadcast apapun dari yang bersangkutan.

Mungkin bisa jadi pembelaan bahwa, keputusan untuk meninggalkan platform medsos populer adalah “memilih untuk tidak tahu dan tidak memberi tahu”. Sehingga, sudah otomatis bahwa ketertinggalan info, termasuk info personal, adalah resiko yang mesti ditanggung. Tidak ada lagi yang mengingat kawan lama atau saudaranya karena tugas itu sudah diserahkan pada “humas” yang mengelola friendlist. Jangan bilang kau tidak diundang pada pernikahan seseorang jika belum mengecek notifikasi medsos dari akun ybs. Mungkin dia membuat grup undangan. Jangan salahkan kenapa tidak ada undangan fisik yang dikirim atau mungkin e-card yang dikirim lewat surel. Karena mungkin dia tidak membuat jenis undangan itu sebagai ujud kepraktisan. Ah, masa sih, tak ada undangan sama sekali? Sulit memang ya, menerima kemungkinan itu, ya mungkin undangan tercetak dalam jumlah sangat terbatas, dan kamu tidak tercantum dalam daftar VIP. Kan bisa kirim surel. Surel, surel melulu! Kamu hidup di zaman apa sih? Jangan-jangan kamu masih menunggu balasan diskusi di milis?! Oh-my-god! Lagipula, kalaupun diundang, apa kamu menjamin selalu berkesempatan datang? Punya ongkos? Punya waktu? Atau kamu mengharapkan e-card untuk akhirnya dibalas dengan surel permohonan maaf tidak bisa hadir?

Ya, kamu masih bisa memulai untuk mengontak duluan beberapa orang yang masih kausimpan nomor telponnya. Tapi belum tentu mereka nyaman dengan media seperti itu. Atau mengirim pesan lewat SMS dan yah, surel! Tapi, jangan berharap banyak mendapat balasan. Tak semua orang masih rajin mengecek dan membalas email pribadi. Kotak SMS hanya dibuka untuk didelete. Urusan makin banyak, wacana juga makin liar, semakin banyak pengalih perhatian dari orang-orang yang keterhubungan emosinya hanyalah masa lalu. Mereka yang masih dibutuhkan saat ini akan selalu tetap dicari dan dipertahankan, bagaimanapun mode komunikasinya. Terimalah bahwa kamu bukan semacam operator layanan perbankan yang pasti akan dihubungi customer yang terblokir PIN-nya, karena tak ada jalan lain untuk menyelesaikan masalah tanpa menghubungi nomor telponnya.

Bagaimanapun, di luar rangkaian revolusi teknologi yang mengubah perilaku manusia, tak ada yang dapat menerka bagaimana mereka menyimpan perasaan satu sama lain di masa datang. Orang-orang yang dianggap penting dapat bertukar, berganti. Mungkin kesengajaan karena ada ketidaknyamanan yang selama ini terpendam. Atau mungkin hanya imbas teralih teknologi, ketertarikan lain, hal penting lain. Kamu bisa mencintai siapapun sepenuh hatimu, tapi cintamu tak bisa mendikte hatinya untuk merasakan hal yang sama. Setiap orang bergulat dengan pertarungannya masing-masing. Ada yang tak kaumengerti dari pilihan mereka. Lebih banyak lagi pertanyaan yang mereka simpan untuk dirimu. Tapi mereka tak bertanya. Ya, karena mungkin alasan menyimpan pertanyaan itu adalah dirimu juga. Adakalanya mengabaikan adalah upaya menjaga. Jadilah orang baik, karena semua orang sudah memiliki luka. Jangan menuntut yang tak bisa kauberi. Jangan menaruh standar moral untuk orang lain atas dirimu, lakukan sebaliknya. Gunakan standarmu untuk memperlakukan orang lain sebaik yang bisa kau cerna. Mereka memiliki standar dan prioritas sendiri. Karena semua itu sebetulnya bukan urusanmu dengan mereka. Jadi, jangan kecewa karena telepon yang tidak diangkat, SMS tak terbalas, atau surel yang-mungkin-masuk kotak spam.

Seni, Apa Itu?

Sedemikian akrabnya kita dengan seni, namun tak menjamin kefasihan dalam menjelaskan apa itu seni. Seiring panjangnya peradaban manusia, sepertinya seni tidak pernah absen. Mulai dari lukisan gua, syair dan mantra yang seolah mampu menyihir pendengarnya, hingga artefak arsitektur yang masih kokoh berdiri menembus milenia adalah sebagian bukti begitu eratnya peradaban manusia dengan seni.

Meski seni telah bertransformasi sedemikian rupa, mulai dari sesuatu yang nampaknya menuntut penciptanya mengerahkan kekuatan karsa dan keterampilan yang luar biasa hingga sesuatu yang nampak sepele seperti tumpukan kardus Brillo-nya Andy Warhol, tentu ada kata kunci yang menghimpun semuanya dalam kategori seni. Persepsi keindahanlah yang mengumpulkan semuanya walaupun tidak semua manusia akan sepakat terkait parameter indah tidaknya suatu karya. Apakah indah itu memiliki suatu daftar parameter yang bila tercentang semua pada suatu karya maka otomatis ia dinyatakan indah? Akalkah yang menimbangnya? Rasakah yang mampu menginderanya? Siapa pula hakim yang kompeten menjatuhkan vonis itu?

Buku kecil ini memiliki misi untuk menghimpun persepsi tentang seni dari pemikir besar di zaman Yunani, Platon, hingga Danto. Kita diajak bersafari dari persepsi seni yang begitu erat dengan standar kebenaran, bahwa ada seni yang benar dan ada seni yang salah. Kemudian tiba juga di suatu masa ketika kegiatan seni menjadi kesempatan untuk memperlihatkan situasi surgawi di dunia dan bertujuan mendekatkan manusia pada unsur keilahian seperti banyak yang ditinggalkan oleh seniman Abad Pertengahan di Eropa. Seni pun beralih fokus lagi dari sakral menjadi profan dalam perkembangan selanjutnya ketika manusia menjadi pusat dan tujuan dalam berkesenian.

Agaknya, pembaca kemudian diminta untuk mengambil simpulan sendiri setelah membenamkan diri dalam berbagai pandangan para pemikir penting tersebut tentang seni. Jika ia merupakan suatu yang alamiah, yang fitrah dalam diri manusia hingga tak sekejap pun dalam perjalanan peradaban manusia meninggalkan seni, maka penelusuran ini akan membangunkan sesuatu yang selalu ada. Bukan menerima sesuatu yang baru dari luar. Dalam perjalanan itu, buku ini cukup asik dibaca, namun sebagaimana terjemahan dari teks Jerman pada umumnya, iapun mengandung kompleksitasnya sendiri sehingga pada beberapa bagian, pengulangan bacaan diperlukan untuk menangkap maknanya dengan tepat.

  • Judul: Seni-Apa Itu?; Posisi Estetika dari Platon sampai Danto
  • Penulis: Michael Hauskeller
  • Bahasa Asli: Jerman
  • Judul Asli: Was is Kunst? Positionen der Asthetik von Platon bis Danto
  • Terjemahan: Bahasa Indonesia
  • Penerjemah: Satya Graha dan Monika J Wizemann
  • Penerbit: PT Kanisius
  • Tahun/Kota Terbit: 2015/Sleman
  • ISBN: 978-979-21-4116-0

Beg, Steal, and Borrow

Dalam salah satu episode The Big Bang Theory, saat Sheldon Cooper dikunjungi Wil Wheaton bersama Adam, putra Leonard Nimoy untuk pengambilan video, ia berkata kurang lebih seperti ini, “Sorry but, you’re only half of Spock. I mean half of you’re DNA is your mom’s”. Dengan logika yang sama, bahkan Leonard Nimoy (pemeran Spock idola Sheldon) yang orisinal pun, tidak begitu orisinal jika mengingat ia juga perpaduan DNA orangtuanya. Adegan tersebut menggambarkan ide yang dibahas dalam buku ini: mempertanyakan lagi konsep orisinalitas dalam hidup kita. Setelah Adam dan Hawa tak ada lagi manusia yang orisinal di bumi ini. Seluruhnya adalah salinan dan pembauran dari berbagai data DNA yang diwariskan dari orangtua, dan bersambung terus pada leluhurnya.

Bahkan dalam perilaku, kita belajar dengan meniru. Hal tersebut sangat fundamental. Sebelum kita mampu berpikir dengan sempurna, kita belajar berjalan, menggunakan peralatan makan, bernyanyi, dengan meniru. Hal itulah tesis utama dari penulis buku ini. Dalam dunia seni, semuanya adalah reka ulang, pengembangan, tiruan, reproduksi dari segala yang pernah ada. Para pelukis pada mulanya membuat gambar dengan meniru alam. Kemudian menginspirasi seniman setelahnya, demikian terus yang terjadi dalam sepanjang sejarah seni. Rekontekstualisasi, pengadaptasian, pembuatan versi baru dari suatu pesan melalui seni merupakan sesuatu yang berlangsung dari dulu dan terus hidup hingga kini dalam dunia seni.

Akan tetapi, mencuri itu dilarang, kan? Mengambil suatu karya untuk dijadikan sebagai karya sendiri merupakan tindakan ilegal. Karena itu ada suatu hukum semacam fair use di Amerika Serikat atau fair dealing di Inggris yang mengatur batasan penggunaan suatu karya terdaftar dalam karya transformatif semacam komentar, kritik, atau parodi.

If, on the other hand, the secondary use adds value to the original–if the quoted matter is used as raw material, transformed in the creation of new information, new aesthetics, new insights, and understandings–this is the very type of activity that the fair use doctrine intends to protect for the enrichment of society.

Judge Pierre N. Leval

Keterangan Buku

Perhatikan “stempel”-nya: “This is not a penguin book”

  • Judul: Beg, Steal, and Borrow, Artist Against Originality
  • Penulis: Robert Shore
  • Penerbit: Laurence King Publishing
  • Tahun/Kota Terbit: 2017/London
  • ISBN: 9781780679464

Memilih Buku

Tiba pada bulan terakhir tahun ini. Saatnya untuk memilih judul-judul buku yang dibaca tahun ini untuk dicicil penulisan reviewnya dan dipublikasikan dalam February Book Review tahun depan. Mungkin aku harus membaca ulang sebagian buku sembari kali ini membuat catatan untuk menjadi bahan tulisan. Ya, banyak buku yang kubaca tanpa membuat catatan. Aku tak terlalu suka membaca sembari mencatat.

Buku-buku yang kubaca tahun ini seperti biasanya berada pada sebaran banyak genre. Akan tetapi ada beberapa hal menarik, misalnya akan ada dua buku memoar dari dua penulis yang cukup kufavoritkan, yang ternyata perjalanan hidupnya-masa kecilnya-menarik, dan mereka termasuk buah sistem pendidikan Inggris, haha. Selain itu ada beberapa buku psikologi populer yang kubaca sebagai…obat, hmmmm. Ya, lagi-lagi akan kusebut-untuk mengatasi guncangan yang kuhadapi tahun ini. Kemudian, ada juga  buku yang masih dalam lingkup psikologi tentang polarisasi (yup, tahun lalu aku banyak membaca tentang fenomena tersebut dari sudut pandang politik, sekarang kucoba perspektif lain). Aku juga membaca karya Platon, ya, karena aku mengambil kuliah pendahuluan tentangnya di NUS, buku yang kubaca merupakan terjemahan beberapa dialog yang dikerjakan oleh instruktur kuliah dengan istrinya. Menarik lho.

Untuk fiksi, aku tidak membaca banyak tahun ini. Ada The Life of A.J Fikry, dan beberapa buku bergambar karya Quentin Blake. Selain itu aku juga membaca Charlotte’s Web, yang tidak terlalu membuatku antusias dan tidak akan kureview. Aku membacanya karena ingin melihat contoh tulisan E.B. White, sementara aku tidak bisa mengakses secara online kolom-kolomnya terdahulu tanpa berbayar. Padahal aku sedang mempelajari bukunya “The Elements to Write”. Berbicara tentang tulisan dan bahasa, aku juga mendapatkan buku Celetuk Bahasa 2 karya Uu Suhardi.

Buku nonfiksi yang cukup banyak kubaca adalah upaya mencari jawaban terkait masalah yang kulihat dalam interaksi sosial seperti yang kusinggung di awal tulisan ini, di mana orang berkubu-kubu. Tak butuh berkenalan untuk bisa berantem. Bagaimana bisa mereka saling merendahkan hanya karena satu klik, atau like. Lupa bahwa mereka sesama manusia, kecenderungan yang sangat berbahaya sebenarnya sebagaimana diejawantahkan dalam “Less Than Human”. Mereka pun bisa mendukung seseorang yang dipasarkan begitu baik mengikuti kecenderungan psikologis populisme. Wow, ini masanya bidang marketing! Tidak perlu produk bagus untuk dijual. Produk menjadi nomor sekian. Bobot tak penting lagi, hanya kekuatan berdagang yang menentukan. Ujung-ujungnya akupun mengambil beberapa kuliah marketing dan koleksi buku di Darul Kutubi bertambah di folder 658. Tapi tidak akan kumasukkan dalam program #febrookary 2019 besok. Baik, sekian dulu. Tabik.