Featured

wilkommen…

Laman ini merupakan catatan yang merekam muatan pikiranku dalam topik yang beragam tentang kehidupan. Banyak curhat, sedikit review atas buku atau film, komentar atas fenomena atau pikiran orang lain, lebih sedikit lagi tulisan riset-riset kecil yang kulakukan, serta beberapa tautan dari laman lain yang butuh kuarsipkan.

Sebagaimana diriku, catatan di sini juga tumbuh. Revisi adalah hal yang sangat umum dan wajar. Dalam setahun, tulisan yang sama akan begitu sering diedit, bergantung pada minatku dalam topik bersangkutan, perkembangan pemahamanku, ketelitianku pada detail penulisan, serta waktu yang kumiliki. Tapi setelah setahun, jika ada perubahan posisiku terhadap apa yang pernah kutulis, insya’a-llah akan kubuat tulisan baru sebagai tanggapan atas tulisanku yang lama.

 

Tabik…

 

 

Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi

 

kuburan3
sumber ilustrasi: justrifky.wordpress.com

Ga bisa tidur lagi setelah mendengar kabar seorang kawan lama(?) atau baru tapi cukup lama (relatif) tak kontak. Perkenalan kami sesaat, tapi karena forumnya adalah semacam terapi di mana kami bercerita banyak tentang diri masing-masing, rasanya perkawanan itu sudah terasa lama, lebih dari sekedar kenalan. Kabar terbarunya adalah: beliau wafat. Waktunya di permulaan Syawal kemarin. Aku tak tahu karena waktu itu aku masih on off FB, tidak lagi menggunakan WA, otomatis tak ada kabar sama sekali. Pikiranku seperti off sesaat. Aku masih melanjutkan aktivitas harian (apalagi hari ini aku baru saja merasa mendingan setelah sakit, jadi banyak kerjaan tertunda yang harus segera diselesaikan) hingga isya, lalu di waktu luang aku mencari tahu apa yang sebenarnya kulewatkan. Continue reading “Mbak Tyas yang Sekelebat Hadir Lalu Pergi”

Merencanakan Ramadan yang Lebih Baik

 

Biasa ya, saat sesuatu yang berharga lewat, seketika langsung terpikir hal yang lebih baik yang dapat dilakukan untuk menyambutnya. Semoga hal seperti ini pertanda untuk selalu melakukan perbaikan pada kesempatan yang (mungkin) datang lagi. Meski tak ada Ramadan yang berulang, namun semoga kita masih dianugerahi banyak Ramadan di depan untuk membasuh dosa dan menguatkan pribadi kita untuk menapaki sisa hidup sebagai hamba yang bertaqwa.

 

Ramadan kali ini memang membawa beberapa pelajaran (lagi-lagi) yang membuatku berpikir, ah andai aku menyadarinya dalam masa persiapan Ramadan. Bagaimanapun Ramadan adalah waktu spesifik yang dijanjikan Allah untuk melipatgandakan segala kebaikan di dalamnya dan kita diharapkan untuk menunda yang tak penting, menggenjot yang baik dan utama, sementara hal yang tak baik dan tak berfaedah jelas ditinggal saja. Bermula dari pola pikir tentang keterbatasan waktu saat Ramadan dan ketakterbatasan keutamaannya, pola hidup kita sebaiknya memang perlu penyesuaian kembali. Berikut ini beberapa hal yang terpikir.

 

Jadikan Ramadan Sebagai Pangkal Rencana Tahunan

Pertama, perencanaan aktivitas yang biasa kita lakukan di setiap pergantian tahun mungkin bisa digeser dengan Ramadan sebagai pusatnya. Ibarat waktu charging baterai, Ramadan adalah saat kita mengisi energi spiritual kita sebanyak-banyaknya, sepenuh-penuhnya (meski menurutku level spiritualitas ini goes to infinity, tak ada titik jenuhnya). Maka setelah Ramadan kita menjadi berenergi, terutama secara spiritual dan siap insyaAllah menghadapi berbagai kejutan hidup selanjutnya dengan penuh tawakal.

 

Ini sebenarnya bukan ide baru, Imam al-Ghazali menyarankan agar pembagian waktu harian kita disandarkan pada waktu-waktu ibadah. Setiap waktu shalat yang lima menjadi waktu transisi dan pertimbangan kita dalam menata aktivitas. Terinspirasi dari hal itu, aku mencoba untuk mengekstrapolasi penataan waktu dalam setahun terkait waktu-waktu ibadah tahunan. Akhirnya, sandarannya adalah pada kalender shaum (shaum sunnah), dengan waktu utamanya Bulan Ramadan.  Kita bisa menata agar aktivitas keduniaan kita mengikuti masa-masa utama untuk beribadah tersebut. Bagaimana caranya agar beban kerja kita berkurang di masa-masa utama untuk beribadah (bukan dihentikan atau dikurangi, tapi disesuaikan waktunya). Misalkan agar bisa memiliki waktu yang lebih lama untuk beribadah di masa Ramadan, bagaimana kita mengkompensasi waktu kerja yang berkurang di Bulan Ramadan dengan menambah waktu kerja di bulan-bulan lainnya.

 

Rencanaku pada Ramadan berikutnya, waktu kerja dibatasi hanya dari setelah subuh hingga dzuhur. Setelah itu waktunya untuk beristirahat sejenak, dilanjutkan dengan aktivitas belajar di masjid hingga waktu berbuka, lalu beristirahat lagi dan beribadah hingga selesai tarawih berjamaah. Pembagian waktu seperti itu mungkin kulakukan karena berwirausaha. Bagi pegawai atau karyawan, perlu dikenali karakter pekerjaannya sehingga bisa mengoptimalkan waktu di sela waktu kerja, dan bila mungkin menggunakan jatah cuti untuk mengoptimalkan sepuluh hari terakhir Ramadan.

 

Optimasi Sepuluh Hari Terakhir Ramadan

Nah, sepuluh hari terakhir Ramadan sebenarnya waktu yang sangat berharga, tapi justru tantangannya sangat banyak. Terkadang halangannya adalah belanja keperluan hari raya, menjamu kerabat yang sudah berdatangan untuk bersilaturahim, atau berada pada perjalanan jauh untuk menjangkau kampung halaman. Untuk perempuan memang lebih baik diam di rumah, tapi jika di rumah menjadi kurang kondusif untuk beribadah karena banyak kesibukan yang lebih karena problem tradisi itu, beritikaf menjadi opsi yang baik. Aku sendiri karena banyak halangan (dan kurangnya upaya) masih belum sanggup untuk memperbanyak waktu ibadah di akhir Ramadan.

 

Untuk masalah pertama, terpakainya waktu untuk mudik yang melelahkan, solusi yang terpikir saat ini adalah mempercepat waktu mudik, mendahului jadwal mudik orang-orang, sehingga kelelahan di perjalanan karena kepadatan pemudik berkurang. Mudah-mudahan tahun depan bisa mudik sebelum sepuluh hari Ramadan sehingga bisa menggunakan sebagian waktunya untuk itikaf.

 

Terkait masalah persiapan hari raya, kadang memang keadaan juga yang menyebabkan sulitnya kita menyiapkan lebih awal. Misal karena THR biasanya baru dibagikan di Bulan Ramadan, bukan sebelumnya, jadilah kita baru menyiapkan pakaian maupun jamuan hari raya di saat yang mestinya kita optimalkan untuk beribadah. Tapi, jika memungkinkan, misalnya menabung selama sepuluh bulan di muka untuk keperluan Ramadan dan hari raya (minimal untuk keperluan sahur buka [kalau bisa jangan disibukkan oleh agenda memasak yang lebih banyak di bulan ramadan], juga untuk zakat fitrah, dan ongkos mudik serta shadaqah selama ramadan),  itu lebih baik. THR yang didapat menjelang hari raya malah bisa dioptimalkan untuk sedekah, atau digunakan untuk melakukan konsumsi justru setelah Ramadan berakhir, setelah hari raya untuk berliburan dengan keluarga, dsb.

 

Jika pemasukkan rutin sudah ngepas untuk keperluan sehari-hari, siap-siap saja jika ada rezeki mendadak langsung disisihkan untuk antisipasi Ramadan dan hari raya, niatkan untuk mendapat keluangan lebih untuk memperbanyak ibadah di bulan mulia, insyaAllah akan mendapat kemudahan.

 

Bagaimana dengan program diskon yang justru menjamur menjelang hari raya? Ya, itu godaan. Agar tidak kehilangan peluang ekonomis, coba tandai musim diskon lainnya untuk memenuhi kebutuhan kita. Biasanya di akhir tahun, atau menjelang hari raya umat lain, banyak toko yang memberikan diskon khusus, manfaatkan momen itu. Tabungan kita untuk keperluan hari raya yang bisa disiapkan jauh-jauh hari, semisal pakaian, bisa dibuka pada momen itu.

Lakukan Bersih-bersih Akbar Menjelang Ramadan, Bukan Lebaran

Selain urusan belanja dan mudik yang digeser, kitapun biasanya disibukkan dengan acara bebenah rumah dan bersih-bersih menjelang hari raya.  Entah karena rumah akan ditinggal mudik, atau akan menerima tamu, pekerjaan ini termasuk menyita waktu dan sayang sekali bila mengurangi lagi waktu ibadah kita.

 

Bila kita termasuk sering menghabiskan akhir Ramadan dengan kegiatan beberes ini, mari kita geser menjadi kegiatan di Bulan Sya’ban. Justru kita melakukan beres-beres akbar dalam menyambut Ramadan. Jika ingin mengubah suasana dengan mendekor ulang rumah, mengecat dinding, merapikan kebun, lakukan sebelum Ramadan. Bersihkan peralatan makan dan perlengkapan untuk dipakai di Hari Raya (taplak meja, alat makan, piring hias, baju baru bila sudah ada) sebelum memasuki Ramadan, lalu simpan dengan baik agar tidak kotor lagi. Sementara saat Ramadan gunakan perlengkapan seadanya dan seefisien mungkin untuk mengurangi pekerjaan rumah tangga.

 

Terkait Usaha yang Meraup banyak Untung di Hari Raya

Nah, bagaimana dengan yang tetap berdinas, bahkan lebih sibuk di hari raya? Tenang saja, Allah tetap mencatat amal kita. Tergantung bagaimana kita meniatkan kesibukan kita dan jangan terlepas dzikir bahkan ketika bekerja, karena yang terpenting itu adalah menjaga kelangsungan koneksi kita dengan Allah. Bekerja di masa Ramadan tetap saja akan beda dengan waktu lain bagi kita yang hidup di negeri Muslim, manfaatkan suasana tersebut.  Sementara para wirausahawan yang justru mendulang pendapatan di masa Ramadan dan menjelang hari raya bisa saja kita mulai menggeser masa promo pada bulan sebelum Ramadan, atau membatasi pekerjaan di bulan Ramadan. Misalnya untuk yang terlibat dalam perdagangan, proses stok barang dan promosi diselesaikan di bulan Sya’ban sehingga di Bulan Ramadan tinggal tersisa pekerjaan untuk pengiriman dan layanan konsumen. Untuk yang memproduksi pakaian, proses produksi selesai satu atau dua bulan sebelum Ramadan. Lebih bagus lagi jika promo berjalan sebelum Ramadan. Sementara penyedia makanan berbuka, perlu mengelola waktu persiapan makanan serta efisiensi waktu penjualan agar tidak mengganggu waktu ibadah.

 

Ramadan Bermisi

Bukan sekadar misi kuantitas ibadah, tapi agar Ramadan tiap tahunnya berkesan khusus, lakukan kebiasaan baik baru yang kita latih selama sebulan penuh. Misalnya, rutin berdo’a setiap menjelang magrib; mengaji mesti seayat selepas subuh; menelpon orangtua setiap ba’da subuh di hari Jum’at; membersihkan tempat shalat setiap hari sebelum shalat malam; dll. Lalu selesai Ramadan kebiasaan itu dilanjutkan, insyaAllah Ramadan benar-benar menjadi ajang penempaan diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik.

 

Jika saat Ramadan kita berhasil meningkatkan sedikit saja hubungan kita dengan Allah, membuat kita lebih mudah merasakan kehadiran Allah, (itulah taqwa!) sehingga membuat kita lebih berhati-hati terhadap dosa dan memotivasi untuk lebih banyak beramal baik, alhamdulillah, ada hasil panen baik yang kita tuai. Modal dari panen itu yang kita ambil sebagiannya sebagai benih untuk ditumbuhkan terus hingga kita berjumpa Ramadan lagi. Lalu dari modal yang semakin banyak, semakin tinggi juga level spiritualitas yang kita miliki untuk ditumbuhkan dalam masa Ramadan yang istimewa. Dengan demikian dari Ramadan ke Ramadan, fase hidup kita bukan sirkular dari semangat ibadah lalu melemah-melemah, hingga recharge seadanya pada Ramadan. Tapi hasil panen dari Ramadan itu makin memperkuat kita untuk mempersiapkan Ramadan yang lebih baik, lalu kita memanen taqwa yang lebih baik pula, dan begitu seterusnya hingga kita mencapai derajat hamba yang mencintai dan dicintai Allah karena taqwa. Amin…

 

 

 

Di Makam Abah

I’ll be soon joining you, assalamu ‘alaikum…

Kata-kata biasa kuucap saat memasuki area pemakaman. Begitu juga pagi ini. Lebaran lalu aku tak ikut berkunjung saat ramai-ramai orang ke sana. Aku menginginkan semacam, hmmm, exclusive priviledge for reflecting, maka aku pergi saat dimungkinkan untuk bisa sendirian di sana.

Ramai kekasihku di makam. Terakhir bergabung Ema, nenekku dari pihak ibu. Sebelumnya, kedua kakekku, beberapa uwak, sepupu, dan lainnya. Melangkah mendekati mereka, kenangan-kenangan terakhir seakan meletus-letus di udara seperti kembang api, menembus kabut pagi yang menyelubungi tipis area pemakaman. Aku berdo’a lalu mengobrol seolah mereka berada di hadapanku, mendengarku. Aku bercerita pada Apa betapa aku mengingat saat-saat terakhir ikut mengantar beliau mencari pengobatan untuk sakitnya. Apa pergi saat aku masih terlalu kecil untuk memahami ikatan dan rasa penasaran terkait transformasi hidup pada mati lebih menguasaiku saat itu.

 

Aku menghampiri makam satu persatu mulai dari makam Ema, lalu Apa, sambil terus berzikir dan kadang mengucap assalamu’alaikum ya ahla’diyaar.. salam untukmu semua para penghuni rumah. Rumah yang juga akan menjadi tempatku kembali, tak lama lagi. Kuhampiri makam Wa Tjitjah, Wa Ucup, Teh Eneng, lalu aku berjalan terus.

 

Pada abah, seperti biasa aku mengingat lagi penyesalanku tak dapat merespon panggilan terakhirnya. Aku hanya hadir sebentar saat abah sakit, tak lama menemaninya. lalu baru datang kembali saat beliau wafat. Tak lama sebelumnya justru Abah yang menemaniku saat aku sakit dan menunggu diagnosa dokter saraf untuk sakitku. aku ingat betul aku meletakkan kepalaku di pangkuan abah dan Abah mengelus kepalaku.

 

Salah satu ingatan yang paling jelas di benakku adalah pagi saat ibuku  menelpon untuk menyampaikan bahwa Abah bertanya-tanya kapan aku pulang dalam sakitnya, Minggu 6 Desember 2009. Rasanya kujawab belum tahu. Lalu aku berangkat menuju Rumah Belajar, masih dengan perasaan tak karuan. Saat siang aku pulang, aku merasa lebih baik mengunjungi adikku di Jatinangor, tapi di tengah jalan aku urungkan hingga aku berjalan kaki terus, entah bagaimana hingga tiba di Dayeuh kolot, aku bahkan melewati Pabrik Ceres saat itu. Menyadari bahwa aku sudah berjalan terlalu jauh aku bersiap kembali, ups tapi ternyata dompetku tertinggal di asrama, saat berangkat aku hanya mengantongi sedikit uang untuk ongkos bolak-balik Kanayakan-Cisitu. Lunglai, akupun berjalan terus hingga sandalku putus di sekitar perempatan Muhammad Toha, akupun bergabung dengan para tukang ojek di gardu, menonton pertandingan Persib entah melawan siapa. Akhirnya akupun menelpon Rahmi, meminta tolong untuk menjemputku. Esoknya, masih dengan perasaan tak tentu, aku berangkat ke Perpustakaan Fisika. lalu ransel yang kutaruh di rak penitipan hilang, dicuri orang. Aku syok. Alhamdulillah laptop kutinggal, tapi di dalam ranselku ada harddisk eksternal berisi seluruh data kuliahku, dan buku perpustakaan pusat yang tak mungkin kuganti bila hilang karena terhitung langka. Baiklah, cerita soal ini akan kuceritakan kapan-kapan. Karena perasaanku tak jelas dan masalah besar tiba-tiba menghantam, aku hampir lupa soal abah. Hingga saat aku berjalan kaki pulang dari kampus ke asrama, sms ibu masuk: “abah meninggal”. Emosiku seolah ambrol dan aku langsung tak henti menangis hingga berjam-jam kemudian. Aku menangis dalam separuh perjalanan hingga asrama, menangis saat mengacak lemariku mencari simpanan uang untuk ongkos pulang mendadak, menangis saat menjawab “kenapa”-nya kawan sekamarku, menangis di sepanjang perjalanan angkot, menangis saat tiba di terminal dan menemukan bus yang akan berangkat, menangis saat tak terduga berjumpa adikku di bus, dan begitulah aku menangis terus hingga akhirnya aku tiba di rumah. Sementara adikku yang sepanjang perjalanan terdiam, langsung masuk kamar dan menangis saat kami tiba.

Saat itu aku merasa hilang sekaligus pasrah. Perasaan itu pula yang selalu menangkapku bertahun-tahun setelahnya hingga setiap hari itu setiap tahunnya aku selalu menangis seharian. Butuh sekitar lima atau enam tahun untuk tiba di tanggal itu tanpa kuhabiskan dengan tangis seharian dan aku mulai dapat berdamai dengan kenyataan.

 

4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri

4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri (Catatan Webinar Bayyinah Institute, bersama Ust. Nouman Ali Khan, 1 April 2017)

Surat al-Jumu’ah, surat ke-62 dalam al-Qur’an termasuk  kelompok musabbihaat, sebuah kelompok surat yang dimulai dengan penyebutan keagungan Allah (Arab: الْمُسَبِّحَاتِ‎‎) ‘Subhana’, ‘Sabbaha’, atau ‘Yusabbihu’. Pada ayat pertama yang artinya “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” disebutkan nama-nama Allah yang menggambarkan kesempurnaan-Nya. Empat nama Allah tersebut antara lain: Continue reading “4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Relasi Muslim dengan Orang-orang Berkeyakinan Berbeda

Tuhan dalam Islam adalah Tuhan seluruh manusia—Tuhannya Orang Yahudi, orang Kristen, Sabi’in, Majusi, serta Musyrik. Dia memberi makan dan merawat mereka Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)”