Featured

wilkommen…

Laman ini merupakan catatan yang merekam muatan pikiranku dalam topik yang beragam tentang kehidupan. Banyak curhat, sedikit review atas buku atau film, komentar atas fenomena atau pikiran orang lain, lebih sedikit lagi tulisan riset-riset kecil yang kulakukan, serta beberapa tautan dari laman lain yang butuh kuarsipkan.

Sebagaimana diriku, catatan di sini juga tumbuh. Revisi adalah hal yang sangat umum dan wajar. Dalam setahun, tulisan yang sama akan begitu sering diedit, bergantung pada minatku dalam topik bersangkutan, perkembangan pemahamanku, ketelitianku pada detail penulisan, serta waktu yang kumiliki. Tapi setelah setahun, jika ada perubahan posisiku terhadap apa yang pernah kutulis, insya’a-llah akan kubuat tulisan baru sebagai tanggapan atas tulisanku yang lama.

 

Tabik…

 

 

Di Makam Abah

I’ll be soon joining you, assalamu ‘alaikum…

Kata-kata biasa kuucap saat memasuki area pemakaman. Begitu juga pagi ini. Lebaran lalu aku tak ikut berkunjung saat ramai-ramai orang ke sana. Aku menginginkan semacam, hmmm, exclusive priviledge for reflecting, maka aku pergi saat dimungkinkan untuk bisa sendirian di sana.

Ramai kekasihku di makam. Terakhir bergabung Ema, nenekku dari pihak ibu. Sebelumnya, kedua kakekku, beberapa uwak, sepupu, dan lainnya. Melangkah mendekati mereka, kenangan-kenangan terakhir seakan meletus-letus di udara seperti kembang api, menembus kabut pagi yang menyelubungi tipis area pemakaman. Aku berdo’a lalu mengobrol seolah mereka berada di hadapanku, mendengarku. Aku bercerita pada Apa betapa aku mengingat saat-saat terakhir ikut mengantar beliau mencari pengobatan untuk sakitnya. Apa pergi saat aku masih terlalu kecil untuk memahami ikatan dan rasa penasaran terkait transformasi hidup pada mati lebih menguasaiku saat itu.

 

Aku menghampiri makam satu persatu mulai dari makam Ema, lalu Apa, sambil terus berzikir dan kadang mengucap assalamu’alaikum ya ahla’diyaar.. salam untukmu semua para penghuni rumah. Rumah yang juga akan menjadi tempatku kembali, tak lama lagi. Kuhampiri makam Wa Tjitjah, Wa Ucup, Teh Eneng, lalu aku berjalan terus.

 

Pada abah, seperti biasa aku mengingat lagi penyesalanku tak dapat merespon panggilan terakhirnya. Aku hanya hadir sebentar saat abah sakit, tak lama menemaninya. lalu baru datang kembali saat beliau wafat. Tak lama sebelumnya justru Abah yang menemaniku saat aku sakit dan menunggu diagnosa dokter saraf untuk sakitku. aku ingat betul aku meletakkan kepalaku di pangkuan abah dan Abah mengelus kepalaku.

 

Salah satu ingatan yang paling jelas di benakku adalah pagi saat ibuku  menelpon untuk menyampaikan bahwa Abah bertanya-tanya kapan aku pulang dalam sakitnya, Minggu 6 Desember 2009. Rasanya kujawab belum tahu. Lalu aku berangkat menuju Rumah Belajar, masih dengan perasaan tak karuan. Saat siang aku pulang, aku merasa lebih baik mengunjungi adikku di Jatinangor, tapi di tengah jalan aku urungkan hingga aku berjalan kaki terus, entah bagaimana hingga tiba di Dayeuh kolot, aku bahkan melewati Pabrik Ceres saat itu. Menyadari bahwa aku sudah berjalan terlalu jauh aku bersiap kembali, ups tapi ternyata dompetku tertinggal di asrama, saat berangkat aku hanya mengantongi sedikit uang untuk ongkos bolak-balik Kanayakan-Cisitu. Lunglai, akupun berjalan terus hingga sandalku putus di sekitar perempatan Muhammad Toha, akupun bergabung dengan para tukang ojek di gardu, menonton pertandingan Persib entah melawan siapa. Akhirnya akupun menelpon Rahmi, meminta tolong untuk menjemputku. Esoknya, masih dengan perasaan tak tentu, aku berangkat ke Perpustakaan Fisika. lalu ransel yang kutaruh di rak penitipan hilang, dicuri orang. Aku syok. Alhamdulillah laptop kutinggal, tapi di dalam ranselku ada harddisk eksternal berisi seluruh data kuliahku, dan buku perpustakaan pusat yang tak mungkin kuganti bila hilang karena terhitung langka. Baiklah, cerita soal ini akan kuceritakan kapan-kapan. Karena perasaanku tak jelas dan masalah besar tiba-tiba menghantam, aku hampir lupa soal abah. Hingga saat aku berjalan kaki pulang dari kampus ke asrama, sms ibu masuk: “abah meninggal”. Emosiku seolah ambrol dan aku langsung tak henti menangis hingga berjam-jam kemudian. Aku menangis dalam separuh perjalanan hingga asrama, menangis saat mengacak lemariku mencari simpanan uang untuk ongkos pulang mendadak, menangis saat menjawab “kenapa”-nya kawan sekamarku, menangis di sepanjang perjalanan angkot, menangis saat tiba di terminal dan menemukan bus yang akan berangkat, menangis saat tak terduga berjumpa adikku di bus, dan begitulah aku menangis terus hingga akhirnya aku tiba di rumah. Sementara adikku yang sepanjang perjalanan terdiam, langsung masuk kamar dan menangis saat kami tiba.

Saat itu aku merasa hilang sekaligus pasrah. Perasaan itu pula yang selalu menangkapku bertahun-tahun setelahnya hingga setiap hari itu setiap tahunnya aku selalu menangis seharian. Butuh sekitar lima atau enam tahun untuk tiba di tanggal itu tanpa kuhabiskan dengan tangis seharian dan aku mulai dapat berdamai dengan kenyataan.

 

4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri

4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri (Catatan Webinar Bayyinah Institute, bersama Ust. Nouman Ali Khan, 1 April 2017)

Surat al-Jumu’ah, surat ke-62 dalam al-Qur’an termasuk  kelompok musabbihaat, sebuah kelompok surat yang dimulai dengan penyebutan keagungan Allah (Arab: الْمُسَبِّحَاتِ‎‎) ‘Subhana’, ‘Sabbaha’, atau ‘Yusabbihu’. Pada ayat pertama yang artinya “Senantiasa bertasbih kepada Allah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” disebutkan nama-nama Allah yang menggambarkan kesempurnaan-Nya. Empat nama Allah tersebut antara lain: Continue reading “4 Langkah Panduan untuk Transformasi Diri”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Relasi Muslim dengan Orang-orang Berkeyakinan Berbeda

Tuhan dalam Islam adalah Tuhan seluruh manusia—Tuhannya Orang Yahudi, orang Kristen, Sabi’in, Majusi, serta Musyrik. Dia memberi makan dan merawat mereka Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (7/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal’ Season’ terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Siapakah Yang Ditakdirkan Masuk Neraka

Al-Qur’an secara spesifik  menyatakan bahwa orang-orang kafir akan berada di neraka. Karena terdapat kesepakatan secara hukum bahwasanya Yahudi dan Kristen secara hukum terkategori kafir (bukan terhadap Allah, akan tetapi terhadap kenabian Rasulullah SAW), kebanyakan muslim menjadikan pendapat ini sebagai dasar bahwa mereka (Yahudi dan Kristen, pen.) akan menjadi penghuni neraka. Lebih jauh lagi, ada juga ayat-ayat yang mengindikasikan bahwa orang Kristen yang meyakini trinitas akan berada di neraka, “ Sungguh telah kafir orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah itu dialah al-Masih putra Maryam.” Padahal al-Masih (sendiri) berkata, “ Wahai  Bani Israil! Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.” Sesungguhnya barangsiapa mempersekutukan  (sesuatu dengan) Allah, maka sungguh, Allah mengharamkan surga baginya, dan tempatnya ialah neraka. Dan tidak ada seorang penolong pun bagi orang-orang zalim itu. Sungguh, telah kafir orang-orang yang menyatakan bahwa Allah adalah salah satu dari yang tiga, padahal tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Tuhan Yang Maha Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan, pasti orang-orang yang kafir di antara mereka akan ditimpa azab yang pedih.”(QS 5:72-73).

Ada sejumlah poin penting yang harus digarisbawahi: Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (6/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

 

Posisi Kekufuran dan Konsekuensinya

Berdasarkan al-Qur’an, menyekutukan Tuhan (syirk)  merupakan dosa terbesar melawan Tuhan. Namun di dalam Q.S.4:116 disampaikan: ”Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki..  Mayoritas ulama tradisional tidak menerapkan ayat ini pada musyrik yang belum pernah mendengar pesan yang sebenarnya tentang Tuhan. Dalilnya adalah Q.S. 17:15, “…tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” Imam Ibn Juzayy al-Kalbi mengomentari ayat ini: Salah satu pendapat terkait ayat ini menyatakan bahwa yang dibahas di sana merupakan aspek duniawi, yakni Tuhan tidak akan mengazab suatu kaum hingga seorang Nabi diutus kepada mereka. (sehingga) mereka tak lagi memiliki alasan. Adapun pendapat lain  menyatakan bahwa ayat tersebut berlaku duniawi maupun ukhrawi, bahwasanya Tuhan tidak akan mengazab orang-orang di akhirat kecuali setelah dikirim seorang Nabi  pada mereka dalam kehidupan dunia ini tapi mereka menolaknya.[i] Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Syarat-syarat Penentuan Kekafiran Seseorang

Sementara takdir mutlak berada di tangan Tuhan, penentuan status seseorang di hadapan hukum tetap penting mengingat ada konsekuensi jelas dari posisi hukum tersebut terkait sejumlah perkara seperti pernikahan, kelahiran, kematian, serta waris. Apa yang menentukan seseorang dinyatakan kafir atau tidak merupakan perkara kritis. Para ahli fiqih Islam mengembangkan suatu panduan garis besar  yang perlu dikritisi sebelum seorang hakim menentukan apakah seseorang telah jatuh ke dalam kekufuran. Enam persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seorang hakim dapat menjatuhkan putusan atas kafir tidaknya seseorang yaitu: Niat, Tiadanya Pemaksaan, Level Keilmuan, Ketiadaan Penakwilan, Kemampuan Nalar, dan Bukti Keyakinan. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Seorang ‘alim yang sangat produktif berkarya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menggolongkan dua tipe kekufuran yang mencakup sejumlah subkategori. Beliau mempertimbangkan keempat jenis kekufuran yang telah disebutkan sebelumnya berbeda dalam derajat, bukan dalam tipenya (saja, pen), keseluruhannya berujung pada ganjaran pedih di akhirat. Jenis kekufuran ini disebut kufr akbar (kufur besar) dan kufr al-ashgar (kufur kecil). Di masa lalu, akibat ketidakpahaman terhadap kufr al –ashgar  ini, sejumlah otoritas muslim salah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, kemudian mereka mengucilkan beberapa muslim tanpa hak. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)”