Featured

wilkommen…

Laman ini merupakan catatan yang merekam muatan pikiranku dalam topik yang beragam tentang kehidupan. Banyak curhat, sedikit review atas buku atau film, komentar atas fenomena atau pikiran orang lain, lebih sedikit lagi tulisan riset-riset kecil yang kulakukan, serta beberapa tautan dari laman lain yang butuh kuarsipkan.

Sebagaimana diriku, catatan di sini juga tumbuh. Revisi adalah hal yang sangat umum dan wajar. Dalam setahun, tulisan yang sama akan begitu sering diedit, bergantung pada minatku dalam topik bersangkutan, perkembangan pemahamanku, ketelitianku pada detail penulisan, serta waktu yang kumiliki. Tapi setelah setahun, jika ada perubahan posisiku terhadap apa yang pernah kutulis, insya’a-llah akan kubuat tulisan baru sebagai tanggapan atas tulisanku yang lama.

 

Tabik…

 

 

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 
oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

 

Posisi Kekufuran dan Konsekuensinya

Berdasarkan al-Qur’an, menyekutukan Tuhan (syirk)  merupakan dosa terbesar melawan Tuhan. Namun di dalam Q.S.4:116 disampaikan: ”Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (mempersekutukan Allah dengan sesuatu) dan Dia mengampuni dosa selain itu bagi siapa yang Dia kehendaki..  Mayoritas ulama tradisional tidak menerapkan ayat ini pada musyrik yang belum pernah mendengar pesan yang sebenarnya tentang Tuhan. Dalilnya adalah Q.S. 17:15, “…tetapi Kami tidak akan menyiksa sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” Imam Ibn Juzayy al-Kalbi mengomentari ayat ini: Salah satu pendapat terkait ayat ini menyatakan bahwa yang dibahas di sana merupakan aspek duniawi, yakni Tuhan tidak akan mengazab suatu kaum hingga seorang Nabi diutus kepada mereka. (sehingga) mereka tak lagi memiliki alasan. Adapun pendapat lain  menyatakan bahwa ayat tersebut berlaku duniawi maupun ukhrawi, bahwasanya Tuhan tidak akan mengazab orang-orang di akhirat kecuali setelah dikirim seorang Nabi  pada mereka dalam kehidupan dunia ini tapi mereka menolaknya.[i] Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (5/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) 

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Syarat-syarat Penentuan Kekafiran Seseorang

Sementara takdir mutlak berada di tangan Tuhan, penentuan status seseorang di hadapan hukum tetap penting mengingat ada konsekuensi jelas dari posisi hukum tersebut terkait sejumlah perkara seperti pernikahan, kelahiran, kematian, serta waris. Apa yang menentukan seseorang dinyatakan kafir atau tidak merupakan perkara kritis. Para ahli fiqih Islam mengembangkan suatu panduan garis besar  yang perlu dikritisi sebelum seorang hakim menentukan apakah seseorang telah jatuh ke dalam kekufuran. Enam persyaratan yang harus dipenuhi sebelum seorang hakim dapat menjatuhkan putusan atas kafir tidaknya seseorang yaitu: Niat, Tiadanya Pemaksaan, Level Keilmuan, Ketiadaan Penakwilan, Kemampuan Nalar, dan Bukti Keyakinan. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (4/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

Seorang ‘alim yang sangat produktif berkarya, Ibn Qayyim al-Jawziyyah menggolongkan dua tipe kekufuran yang mencakup sejumlah subkategori. Beliau mempertimbangkan keempat jenis kekufuran yang telah disebutkan sebelumnya berbeda dalam derajat, bukan dalam tipenya (saja, pen), keseluruhannya berujung pada ganjaran pedih di akhirat. Jenis kekufuran ini disebut kufr akbar (kufur besar) dan kufr al-ashgar (kufur kecil). Di masa lalu, akibat ketidakpahaman terhadap kufr al –ashgar  ini, sejumlah otoritas muslim salah menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an dan hadits Nabi SAW, kemudian mereka mengucilkan beberapa muslim tanpa hak. Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (3/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf)

oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 

dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 

pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

Tipe-tipe Kekufuran dalam Al-Qur’an

Al-Qur’an mengidentifikasi beberapa tipe kekufuran, lalu darinya sejumlah ulama menyimpulkan empat jenis umum kekufuran dan memandang setiapnya layak mendapat balasan di akhirat: kufr inkar, kufur juhd, kufr mu’anada, dan  kufr nifaq.

Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (2/8)”

Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (1/8)

 

Diterjemahkan dari Who Are the Disbelievers?”  (Hamza Yusuf) oleh Rira Nurmaida

Terjemahan ini merupakan rangkaian dari delapan bagian pembahasan 
dalam makalah asli oleh Syaikh Hamza Yusuf yang dimuat 
pada Jurnal' Season' terbitan Zaytuna Tahun 2008.

1/8 Pembukaan

2/8 Tipe-tipe Kekufuran yang Disebut dalam al-Qur’an

3/8 Kategori Kekufuran Menurut Ibn Qayyim al-Jawziyyah

4/8 Syarat-syarat Penentuan Kekufuran Seseorang

5/8 Posisi Kekafiran dan Konsekuensinya

6/8 Siapa yang Ditakdirkan Masuk Neraka

7/8 Relasi Muslim dengan Orang yang Berbeda Keyakinan

8/8 Catatan Tambahan

Bagian 1/8

Kufur dapat dimaknai sebagai ketidakpercayaan atau pengingkaran, tiadanya rasa syukur, atau penolakan arogan terhadap kebenaran. Istilah ini memiliki banyak nuansa makna sebagaimana disebutkan dalam al-Qur’an dan sunnah. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ketika seseorang terusik oleh suatu kebenaran, ia akan mulai berpikir (fakkara)  dan menentukan (qaddara)  pendekatan terbaik untuk menjustifikasi penolakannya terhadap kebenaran tersebut. Melihat hal tersebut, nampak bahwa kekafiran berelasi dengan kecerdasan. Aristoteles mendefinisikan intelegensi sebagai sarana di antara kebodohan (jahl)  dengan kecerdasan atau keterampilan. Pengingkaran (kufr) merupakan respon terhadap kebenaran yang disertai aktivitas menutupi kebenaran. Secara semantik, kufur berasal dari kata kafara yang artinya menutupi atau menyelubungi. Salah satu istilah untuk ‘petani’ dalam Bahasa Arab adalah ‘kaafir’  karena petani menyelubungi benih dengan tanah. Kufur juga dimaknai ‘menyembunyikan’ , seperti dalam istilah ‘  kufur nikmat’ (menyembunyikan anugerah yang dikaruniakan padanya). Kufur di dalam al-Qur’an digunakan sebagai antonim bagi iman—dan kafir bertolak belakang dengan mukmin (orang yang beriman)—sebagai salah satu dari dua kemungkinan respon terhadap ayat-ayat ilahiyah. Selain itu, ‘kufur’ juga digunakan sebagai lawan kata ‘syukur’

Continue reading “Siapakah Kaum Tak Beriman Itu? (1/8)”

Ema

Sembari duduk menyamping di dipan dapur yang terletak menghadap tungku batu, ia begitu fokus menguleni adonan. Sesekali dituangkannya air perlahan sembari terus mengaduknya hingga mencapai konsistensi yang diinginkan. Airnya segimana, Ma?, tanyaku penasaran. Ia jawab, “Secukupnya aja we, sampe pas.” Aku masih SD waktu itu, masih sering bermain ke ‘kulon’, karena rumah Ema-nenekku dari pihak ibu-terletak di barat rumah. Pemandangan ema membuat kue di dapurnya meski menjadi biasa tapi tetap memicu penasaran. Perkaranya tadi, dalam menakar, tak digunakannya ukuran metrik maupun imperial, hanya berdasarkan perasaan, intuitif, tapi hasilnya memiliki rasa konsisten. Besot, talam asin, talam manis, kue mangkok, kue ali favorit sepupuku, dan entah apalagi. Favoritku dari kue-kue buatan ema adalah talam asin. Kue kecil putih dari tepung beras, berbentuk mangkuk, gurih dengan taburan bawang goreng dan irisan seledri di atasnya. Enak. Cantik.

Continue reading “Ema”

Dumbing Us Down

Beberapa tahun lalu, aku sempat ngobrol dengan seorang kenalan terkait persekolahan. Hingga pada suatu titik, aku bilang, “mungkin jika aku punya anak, takkan kusekolahkan saja.” Ia menyanggah, “Bukankah kita menjadi seperti hari inipun karena kita bersekolah?” Belakangan menghadapi kesulitan seorang kawan mencarikan sekolah yang pas (baca: memenuhi harapan-harapannya) bagi anaknya hingfa anaknya tertunda sekolah hingga hampir tiga tahun, aku kembali berpikir terkait urgensitas sekolah. Apakah anak kawanku itu memang perlu sekolah? Kupikir ya, karena orangtuanya pun tidak berkecenderungan memilih homescooling. Apa yang dikhawatirkan dari dampak sekolah hingga ia bertahan tidak menyekolahkan anak alih-alih ‘masukkan sekolah yang paling mendekati keinginan saja, kekurangannya diisi di rumah’.

Pikiran-pikiran itu mengingatkanku pada hari-hari ketika isu pendidikan lekat denganku: semasa di Rumah Belajar Sangkuriang. Tim kami rapat hampir setiap hari di Campus Centre Barat untuk merumuskan silabus aktivitas bersama anak-anak sekitar Cisitu. (Apa kabarnya mereka sekarang ya, mungkin sudah lulus SMA.) Saat itu buku-buku bacaan berputar di sekitar pendidikan (terutama pedagogi) dan psikologi anak. Piaget, Montessori, Khrisnamurti, Ivan Ilich, Gardner, dan sejumlah nama lain akrab dalam khazanah alam pikir. Belum lagi tokoh-tokoh homeschooling dan unschooling dalam negeri yang dipantau terus blog-blog nya. Tapi hingga saat terakhir meninggalkan kampus, wacana tentang liberal arts belum terikut dalam benak. Baru setelah mengenal Syeikh Hamza Yusuf dari ceramah-ceramahnya aku menaruh perhatian terkait itu.
Keterangan Buku:

Judul: Dumbing Us Down 
Penulis: John Taylor Gatto
Penerbit: 
Tahun Terbit: 2005 (Collector’s Edition)